Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Hari Ini

Kalah menang sudah biasa, hal ini yang biasanya diucapkan kepada seseorang pemenang yang kalah. Ya, seseorang pemenang, bukan pecundang yang kalah. Niatnya hanya ingin memberi kekuatan pada orang2 di sekitar kita yang mengalami kekalahan. Tapi bagiku, ucapan seperti itu hanya akan menambah kedukaan. Entah. Menurutku, jika aku kalah dan diberi nasihat seperti itu tidak akan ngefek, karena aku sudah sering mendengar hal seperti itu. Yang aku butuhkan adalah nasihat berkaitan dengan masalah yang kuhadapi dan bisa mengakar ke otak atau bahkan ke seluruh tubuh.


Sore ini, jam les belum berakhir. Entah. Tanganku tiba-tiba saja merogoh saku dan mengambil handphone. Ada satu pesan singkat untukku darimu. Pikiranku menduga yang tidak-tidak. Tapi sepertinya dugaanku benar. Dengan pertimbangan tentunya. Karena apabila kamu dan teman-temanmu menang, kemungkinannya sangat kecil jika kamu akan mengabariku langsung setelah futsal. Menurutku lebih besar kemungkinannya kamu akan langsung menghubungiku. Aku pun mengambil resiko untuk terus membalas pesan darimu meski masih jam les. Ternyata benar, tim futsalmu kalah dan kamu langsung menghubungiku. Aku ikut merasakan sakit. Membayangkan bahwa timmu yang kalah futsal itu adalah aku yang mendapat nilai tidak memuaskan. Dongkol? Tentu, aku merasa dongkol kalau kalah, tapi bagiku kekalahan dan luka bukan akhir dari segalanya. Dan juga ada sedikit celah kelegaan di hatiku. Kenapa? Karena kamu menghubungiku lebih dulu saat kamu terjatuh, itu artinya kamu sudah merasa nyaman denganku. Benar kan? Atau itu hanya khayalanku saja?

Les berakhir, aku melihat salah satu temanku yang ingin meminjam powerbank menungguku. Sayang sekali. Ya, benar-benar sayang. Aku lupa untuk membawanya. Kupikir kepercayaannya padaku menghilang sedikit. Bodohnya aku. Ya, inilah aku yang payah dalam berteman. Oleh sebab itu, aku merasa senang jika ada orang yang nyaman di sampingku.
Temanku itu membonceng salah satu anggota tim futsalmu. Lebih spesifiknya adalah ketua timmu. aku melihatnya, ya dia menangis tapi wajahnya ditutupi dengan jerseynya. Kami pernah dekat sewaktu kelas 8, jadi aku tahu betapa dia mencintai bola. Bukan hanya aku. Kamu dan mereka yang dekat dengannya juga mengetahuinya. Apa kamu tahu? Aku tidak suka melihatnya dilemahkan oleh kekalahan. Karena dia salah satu yang pernah menemani serta menghiasi hariku.

Lalu kamu. Kamu selalu bilang kekalahan ini karenamu. Aku tahu. Penyesalan yang besar mengahantuimu. Tapi, pernahkah kamu berpikir, meski kamu tak berhenti menyalahkan dirimu sendiri semuanya tidak akan berubah. Atau mungkin menurutmu itu bisa membayar kesalahanmu? Jika aku jadi kamu, sebelum mengikuti lomba itu aku akan menata hatiku agar siap menghadapi apaun yang terjadi dan berserah diri  kepada Allah. Tidak terlalu bahagia ketika menang sehingga tidak memunculkan kesombongan, dan juga tidak terlalu sedih ketika kalah agar tidak putus asa. Maksudku menghadapinya biasa-biasa saja, karena perasaan seperti ini adalah kebahagiaan sesungguhnya. Rasanya seperti tidak ada beban.

Ngomong-ngomong soal beban, sepertinya kamu dan teman-temanmu menanggung beban yang berat ya? Atau itu hanya pikiranku saja? Karena banyak guru yang menonton pertandingan timmu hari ini. di sisi lain, wali kelas kita tidak mendukung futsal ini. Tapi entah mengapa, teman-temanmu begitu yakin akan kemenangan sore ini. Haha, padahal baru menag sekali. Dan juara futsal di smp sendiri itu bukan jaminan tentang kehebatan timmu. walaupun logikanya begitu, aku percaya dengan timmu. semangat kalian sangat besar. Do’aku, semoga kalian masuk final. Amiin. Dan untuk kamu, jangan mudah putus asa. Dalam keadaan apapun jika kamu membutuhkanku, akan ku lakukan yang terbaik untuk membantumu.

sumber:http://cecinitafelia.blogspot.com
READ MORE - Hari Ini

Cara Menambah Pengikut Pada Blog

Pada pertemuan sebelumnya saya sempat membahas tentang Cara Membuat Artikel Terkait Di Bawah Postingan Blog,kini saatnya kita ke artikel baru yaitu mengenai Cara Menambahkan Widget Followers atau Pengikut Di Blog,Kolom pengikut merupakan salah satu cara untuk meningkatkan traffict blog kita,dengan tersedianya kolom pengikut para pengunjung bisa bergabung jika merasa tertarik atas artikel artikel yang kita buat,pengikut blog akan mendapatkan update artikel terbaru yang kita buat,dengan demikian ada kemungkinan blog kita sedikit bisa terkenal,itu kan yang kalian inginkan....?
READ MORE - Cara Menambah Pengikut Pada Blog

SESUATU YANG BERHARGA

Pada saat hujan turun dengan derasnya,aku mencoba membayangkan sesuatu dengan melihat titik-titik air diluar jendela.Aku-pun pasti akan kualami,aku-pun mencoba browsing untuk mencari kata-kata indah.
"Kamu dapat membahagiakan seseorang dengan sesuatu yang istimewa tapi seseorang yang istimewa-lah yang dapat membahagiakanku tanpa apapun"kata-kata dalam laptop kecilku.
"ku berfikir benar juga,kuharap aku dapat merasakan itu juga!"ujarku


READ MORE - SESUATU YANG BERHARGA

TENTANG DIRINYA

Sejakku mengenal dirinya aku baru sadar kalau dia mungkin cewek yang baik tapi sejak coba mengenal dia ternyata dia agak memiliki kebedaan sifat dari cewek yang lainnya saat itu tapi menurutku.ku berfikir bahwa dia ini mungkin anak yang sedikit manja karena sifat dia yang selalu mengabaikan orang di sekelilingnya.apa dia yang ngabaikan?atau anak2 lainnya yang mengabaikan?akupun tak tahu.hari demi hari tlah berlalu ku selalu mencoba mendekatinya agar aku tahu semua tentang dia tapi kesalahanku terjadi,dia malah menyukaiku padahal aku orangnya terlalu aneh untuk di sukai.lalu aku-pun kgk pernah berhubungan lagi sama dia.


READ MORE - TENTANG DIRINYA

Tak Ada Yang Semprna (part2)

Siang ini, Chrisa hanya sendirian di dalam kamar dengan ditemani sebuah novel yang dibacanya, sedangkan Pak Ferdi sedang ada urusan dengan kantornya. Karena merasa jenuh, Chrisa memutuskan untuk pergi ke taman. Chrisa pun memencet bel supaya suster dapat mengantarnya ke taman. Setelah sampai taman, Chrisa menyuruh suster tersebut untuk meninggalkannya. Saat ini ia tengah melihat beberapa anak yang sedang bermain. Sesekali Chrisa tersenyum melihat tingkah mereka yang lucu.
“Hahaha… mereka terlihat sangat gembira, tak sepertiku dulu. Mereka beruntung karena memiliki kaki yang sempurna” Ucap Chrisa.
“Hallo, Kak” Sapa seorang gadis cilik.
“Hai, loh kok kamu ada di sini? Kenapa kamu gak bergabung dengan teman-temanmu yang lain?”
“Tadi aku lihat Kakak sendirian di sini, jadi aku pingin nemenin Kakak, gak boleh ya, Kak?” .
“Boleh kok, nama kamu siapa?”
“Nama aku Felly, kalau Kakak?”
“Nama Kakak Chrisa”
“Kakak kenapa sendirian di sini, orangtua Kakak mana?”
“Ibu Kakak udah meninggal, kalau ayah Kakak lagi kerja. Kamu sendiri?”
“Maaf, Kak. Orangtua aku udah meninggal 2 tahun yang lalu dan sekarang aku tinggal di Rumah Sakit ini bersama mereka” Ucap Felly sambil menunjuk sekelompok anak yang sedang bermain.
“Maaf ya, Kakak gak bermaksud buka luka lama” Ucap Chrisa merasa bersalah.
“Gak papa kok, Kak. Oh ya, Kakak sakit apa kok bisa sampai di rawat di sini?”
“Kakak jatuh dari tangga, hehehe” Jawab Chrisa berbohong,
“Makanya Kakak hati-hati dong”
“Kamu sendiri?”
“Aku kena kanker darah stadium akhir” Jawab Felly tersenyum.
“Kanker?” Kata Chrisa kaget.
“Iya”
“Tapi…” Ucap Chrisa terpotong.
“Aku gak kelihatan kaya orang sakit kan?” Ucap Felly menatap Chrisa.
“Iya, kamu terlihat sama seperti anak-anak yang lain, anak-anak yang sehat”
“Banyak yang bilang seperti itu. Tapi, baguslah aku tidak suka dikasihani apa lagi diperlakukan seperti anak yang sebentar lagi akan meninggal”
“Apa kamu pernah merasa putus asa?”
“Dulu, tapi sekarang aku sadar gak ada gunanya kita putus asa. Lagian aku capek, kalau terus nangis dan menyesali takdir ini. Hidup harus kita nikmati, selagi kita masih bisa menikmatinya” Jawab Felly menatap lurus ke depan.
“Kamu gak marah sama Tuhan?”
“Buat apa aku marah? Tuhan sudah menentukan jalan kita masing-masing dan kita sebagai umatnya, harus ikhlas menjalaninya”
“Nona Chrisa, saatnya minum obat” Pinta seorang suster.
“Iya, Sus”
“Maaf ya, Fell. Kakak harus minum obat dulu. Dadah Felly” Pamit Chrisa.
“Dadah Kak Chrisa” Balas Felly sambil melambai-lambaikan tangannya.
Sudah 3 hari berlalu, kini Chrisa sudah diperbolehkan untuk pulang. Sebelum ia pulang, ia menemui Felly di taman Rumah Sakit. Sejak perkenalannya dengan Felly tiga hari yang lalu, Chrisa dan Felly menjadi akrab. Bahkan, sudah seperti kakak-adik.
Hari ini, Chrisa berniat untuk berpamitan pada Felly. Dengan kursi rodanya, perlahan ia memasuki kamar Felly.
“Hai, Felly” Sapa Chrisa sambil mendorong kursi rodanya menuju pinggir tempat tidur Felly.
“Hai, Kak Chrisa” Balas Felly.
“Sini Kakak bantuin sisirin rambut kamu” Tawar Chrisa.
“Gak usah Kak, lagian udah selesai kok”
“Itu semua rambut kamu?” Tanya Chrisa sambil menunjuk kumpulan rambut yang ada di sela-sela sisir.
“Hehehe, iya Kak. Biasalah Kak, kalau orang habis kemoteraphy pasti kaya gini” Jawab Felly tersenyum.
“Eum.. Fel, hari ini Kakak mau pulang. Tapi Kakak janji kok, Kakak akan sering jenguk kamu di sini”
“Iya, Kak Chrisa. Kalau jenguk ke sini, jangan lupa bawain es krim rasa coklat ya, Kak. Hehehe”
“Sip”
“Ya udah, Kakak pamit dulu ya. Bye”
“Bye, Kak Chrisa”
Hari ini, Anisa sudah mulai sekolah. Anisa berjalan menyusuri setiap lorong sekolahnya dengan tongkat yang menopang tubuhnya. Saat Anisa sampai di taman ia dicegat oleh segerombolan cewek, siapa lagi kalau bukan Brenda cs.
“Masih berani loe sekolah di sini?” Ucap Zia, salah satu anggota dari Brenda cs.
“Ada alasan kenapa aku gak berani sekolah di sini?”
“Udah mulai ngelunjak ya loe” Balas Brenda sambil mengangkat dagu Chrisa.
“Lepasin” Pekik Chrisa sambil menangkis tangan Brenda dengan kasar.
“Wah wah wah.. hebat loe! Guys.. kayanya dia butuh pelajaran nih” Ucap Brenda kepada genknya.
“Iya, kalau enggak bisa nambah ngelujak dia” Balas Gea.
“Aku gak takut sama kalian!” Ucap Chrisa lantang.
“Okey. Come on, Guys!” Perintah Brenda.
Zia langsung mengambil kedua tongkat Chrisa, sedangkan Gea dan Brenda memegangi kedua tangan Chrisa.
“Mau apa kalian?” Tanya Chrisa yang berusaha melawan.
“Udah, gak usah banyak omong loe!” Jawab Brenda.
Brenda cs membawa Chrisa ke halaman belakang sekolah. Dengan kasar, Brenda mendorong tubuh Chrisa ke tanah. Brenda menginjak kaki Chrisa begitu kuat, sedangkan Gea menjambak rambut Chrisa hingga Chrisa meringis kesakitan.
“Ampun, Bren. Ampun” Rintih Chrisa.
“Gak ada ampun buat loe” Ucap Brenda yang semakin kuat menginjak kaki Chrisa.
“Awwww!!” Teriak Chrisa kesakitan.
“Bren, udah lah. Kasihan dia” Ucap Zia yang iba melihat Chrisa yang kesakitan.
“Iya, Bren. Lagian nanti kalau kita ketahuan bisa gawat” Tambah Gea.
“Bener juga loe” Ucap Brenda.
“Urusan kita belum selesai” Ucap Brenda pada Chrisa.
“Yuk guys kita cabut” Perintah Brenda. Dan tanpa sepengetahuan Brenda, Zia melemparkan kedua tongkat Chrisa di sebelah kanan tempat Chrisa terjatuh. Chrisa tersenyum pada Zia, namun tak dibalas oleh Zia.
“Hiks hiks hiks.. aku gak mungkin sekolah dengan keadaan yang seperti ini, pasti Rachel dan Bima akan curiga. Lebih baik aku pulang” Ucap Chrisa sambil berusaha untuk berdiri dengan di bantu kedua tongkatnya. Dengan perlahan, Chrisa meninggalkan halaman belakang sekolah. Setelah sampai di depan gerbang, Chrisa segera menyetop taksi.
Terlihat seorang gadis sedang mengobati kakinya yang sudah berubah warna menjadi biru di beberapa bagian. Sesekali dia mengigit ujung bibirnya.
“Awww” Rintihnya.
“Chrisa, ngapain kamu di situ?” Tanya seorang laki-laki paruh baya sambil mendekati seorang gadis yang ia panggil, Chrisa.
“Gak papa kok, Pah”
“Kaki kamu kenapa?! Siapa yang melakukan ini?” Tanya Pak Ferdi kaget.
“Tadi Chrisa jatuh di taman sekolah, Pah” Dusta Chrisa.
“Gak mungkin! Kalau kamu jatuh di taman sekolah, gak akan sampai lebam seperti ini”
“Chrisa gak bohong kok, Pah”
“Chrisa, Papah mohon, kasih tahu Papah, siapa yang ngelakuin ini semua sama kamu?”
“Gak ada, Pah”
“Jangan bohong!! Siapa yang ngelakuin ini Chrisa??!!! Bilang sama Papah”
“Gak ada, Pah. Anisa memang jatuh di taman belakang sekolah”
“Oke, Papah percaya sama kamu. Tapi, kalau Papah sampai tahu kamu kaya gini bukan karena jatuh, Papah akan buat perhitungan sama orang yang udah buat kamu kaya gini” Chrisa mengangguk.
“Ya sudah. Papah ke kamar duluan ya, kamu jangan tidur terlalu malam. Besok kamu sekolah”
“Iya, Pah”
Keesokan harinya, di kantin sekolah. Chrisa baru teringat, jika ia mempunyai janji pada Felly.
“Astaghfirulloh.. aku lupa” Gumam Chrisa sambil berdiri dengan kedua tongkatnya.
“Mau kemana, Chris?” Tanya Rachel.
“Aku mau ke rumah sakit” Jawab Chrisa beranjak pergi dari kantin.
“Mau ngapain?” Tanya Bima.
“Aku mau ketemu sama Felly”
“Aku ikut” Teriak Rachel dan berlari mengikuti Chrisa.
“Tunggu” Ucap Bima sambil berlari.
Chrisa, Rachel dan Bima telah sampai di rumah sakit. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Chrisa masuk ke ruangan Felly. Namun, ia tak menemukan Felly di ruangannya.
“Sus, pasien yang bernama Felly, yang di rawat di ruangan ini dimana ya?” Tanya Chrisa pada seorang suster yang kebetulan lewat di depan ruang rawat Felly.
“Oh, pasien yang bernama Felly sudah meninggal 2 hari yang lalu”
Deg.. jantung Chrisa terasa berhenti, es krim coklat yang ia bawa untuk Felly pun tumpah. Air matanya mulai mengalir deras.
“Sus, di mana Felly dimakamkan?”
“Di Pemakaman dekat rumah sakit ini”
Tanpa ba bi bu, Chrisa langsung menuju makam yang di maksud suster tersebut.
“Felly, kenapa kamu pergi secepat ini? Maaf, Kakak baru bisa jenguk kamu sekarang. Dan lihat! Kakak udah nepatin janji Kakak, Kakak bawain kamu es krim rasa coklat. Tapi, kamu bangun ya, Fel. Hiks hiks hiks” Ucap Chrisa di depan sebuah nisan.
“Udah, Chris. Biarkan Felly tenang di sana” Kata Rachel berusaha menenangkan Chrisa.
“Maaf, apakah anda yang bernama, Chrisa?” Tanya seorang suster.
“Betul, anda siapa ya?” Jawab dan tanya Chrisa yang masih sesenggukan.
“Saya suster yang merawat Felly, dan ini ada titipan surat untuk anda” Jawab suster sambil menyerahkan surat pada Chrisa.
“Kalau begitu, saya permisi dulu”
“Terima kasih, Sus”
Dengan perlahan Chrisa membuka surat dari Felly tersebut.
To : Kak Chrisa
Hallo Kak Chrisa yang cantik, yang manis, yang bawel! Gimana nih kabarnya? Sehat dong? Mungkin kalau Kakak udah baca surat ini, aku udah ada di surga, ketemu papah dan mamahku. Dan yang pasti aku gak akan ngerasa kesakitan dan kesepian lagi. walaupun aku baru kenal Kakak, tapi aku udah sayang banget sama Kakak. Kakak udah Felly anggap Kakak kandung Felly sendiri. Oh ya, Kakak jangan suka sedih lagi ya, ingat! kalau Tuhan pasti berikan yang terbaik untuk hambanya. Kakak harus semangat!! Jangan pernah putus asa!!. Sampai ketemu di Surga.. Dadah Kakak, aku sayang Kakak.
“Kakak juga sayang sama kamu, Fel. Kakak beruntung bisa kenal orang yang berhati malaikat seperti kamu. Kamu adalah anak yang kuat. Semoga kamu tenang ya di sana. Kakak akan selalu ingat sama kamu sampai kapanpun. Sampai ketemu di surga” Ucap Chrisa sambil memeluk surat tersebut.
Seminggu kemudian,
Terlihat dua orang gadis dan satu orang laki-laki sedang mengobrol sambil sesekali bercanda di kantin sekolah.
“Malam ini loe mau nyanyi apa, Chris?” Tanya Rachel.
“Nyanyi apa yah?” Goda Chrisa.
“Iihh.. gue tanya beneran nih” Balas Rachel kesal.
“Ada deh” Jawab Chrisa.
“Gue tahu, pasti nanti lagu yang loe nyanyiin buat gue” Ucap Bima PD.
“Idih.. PD gila loe” Celetuk Rachel.
“Udah-udah.. kita ke kelas aja yuk, udah mau masuk nih” Ajak Chrisa sebelum kedua sahabatnya itu bertengkar lagi.
“Ya udah yuk” Jawab Rachel dan Bima.
Malam ini, Chrisa tampak sangat anggun dengan gaun berwarna putih selutut dan rambut yang dibiarkan terurai.
“Siap?” Tanya Bima.
“InsyaAllah” Jawab Chrisa.
“Loe udah dipanggil tuh, Chris” Ucap Rachel.
Chrisa segera naik ke atas panggung, dengan tongkat kesayangannya. Ditatapnya para hadirin yang datang ke acara itu. Pandangannya terhenti pada sosok seorang gadis yang memakai gaun putih seperti bidadari. Dia mengacungkan ke dua jempolnya sambil tersenyum. “Felly” Gumam Chrisa. Ya, sosok gadis bergaun putih itu adalah Felly. Kini, Chrisa sudah siap menampilkan performa terbaiknya.
“Lagu ini saya persembahkan untuk orang-orang yang memiliki kekurangan seperti saya, manusia tak ada yang sempurna” Ucap Chrisa.
Dengan penuh perasaan, Chrisa mulai memetik gitar.
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik (Jangan Menyerah-D’Masiv)
Prok.. prok.. prok (suara tepuk tangan penonton)
“Terima kasih” Ucap Chrisa dan meninggalkan panggung.
“Penampilan loe keren banget, Chris. Kita bangga banget punya sahabat kaya loe” Ucap Rachel.
“Iya Chris, liat tuh si Rachel ampe nangis” Ledek Bima.
“Ih, terharu tau” Balas Rachel sambil menghapus air matanya.
“Terima kasih ya, karena kalian udah support aku selama ini. Kalian memang sahabat terbaik ku”
“Sama-sama, Chrisa” Balas kedua sahabat Chrisa.
Tiba-tiba Brenda Cs menghampiri Chrisa, Rachel dan Bima.
“Penampilan loe tadi hebat banget, Chris” Ucap Brenda menghampiri Chrisa.
“Maaf, selama ini gue udah kasar sama loe” Lanjutnya
“Makasih ya, Bren. Iya, aku udah maafin kamu kok, malah sebelum kamu minta maaf sama aku” Balas Chrisa.
“Makasih ya, Chris” Ucap Brenda sambil memeluk Chrisa.
“Sama-sama”
Chrisa P.O.V
Kini aku yakin, jika tak ada manusia yang sempurna. Tuhan telah menciptakan kita dengan kelebihannya masing-masing. Dan percayalah, Tuhan telah menentukan jalan yang terbaik untuk hambanya. Kebahagiaan akan datang jika sudah tiba waktunya.
TAMAT
READ MORE - Tak Ada Yang Semprna (part2)

Tak Ada Yang Sempurna(Part1)

Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu, seperti anak-anak yang lain. Aku terlahir dengan jalan yang normal. Tapi kenapa? Kenapa aku tak seperti mereka? Mereka yang mempunyai kaki sempurna. Mereka yang bebas berlari dan berjalan tanpa tongkat. Kenapa mereka memanggilku dengan sebutan “Si Pincang”, Si Pincang yang tak bisa apa-apa?. Hati ku sakit setiap kali mereka memanggilku dengan sebutan itu. Tapi, mereka memang benar. Aku memang si pincang yang selalu menyusahkan orang lain. Yang tak bisa berbuat apa-apa tanpa tongkat.
Hai.. Perkenalkan namaku Chrisa Putri Cahaya. Aku tinggal bersama Papahku karena ibuku telah lama meninggal. Walaupun aku hanya tinggal bersama Papah tapi aku bahagia karena Papah sangat menyayangiku. Aku juga mempunyai dua sahabat Bima dan Rachel. Mereka adalah sahabat ku dari kecil. Mereka mau menerima ku apa adanya. Huem, udah dulu ya perkenalannya.
“Pagi, Pah” Sapaku saat sampai di meja makan.
“Pagi juga, sayang”
“Oh ya, Pah. Nanti aku pulangnya agak telat ya, Pah. Soalnya aku mau ke toko buku dulu sama Bima dan Rachel”
“Iya, tapi jangan sampai malam ya” Pesan papahku.
“Oke, Pah” Balasku mengacungkan jempol.
Tin.. Tin.. Tin {Suara Klakson mobil}
“Pah, Chrisa berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum” Pamitku sambil mencium tangan papah.
“Wa’alaikumsalam” Balas papah.
“Sorry jemputnya telat. Biasa tuh si Rachel bangunnya telat” Kata Bima.
“Ea elah, baru aja 3 kali gue telat bangun”
“3 kali loe bilang baru. dasar kebo” Ledek Bima.
“Dari pada loe cungkring” Balas Rachel yang tak mau kalah.
“Udah-udah, kalau kalian berdebat terus kapan kita berangkatnya” Leraiku.
“Dia dulu yang mulai, Cha” Tuding Rachel pada Bima.
“Enak aja loe, loe dulu tu yang mulai” Jawab Bima yang tak mau kalah.
“Loe”
“Loe”
“Loe”
“Stoop” Teriakku.
“Kalian mau berangkat gak sih? Kalau gak biar kau bareng sama mang Ujang aja” Ucapku meninggalkan mereka {Rachel dan Bima}.
“Eh..ee…eee.., Yah ngambek, jangan ngambek dong Cha” Bujuk Bima.
“Habis, kalian tuh berantem mulu. Kaya kucing sama tikus tau gak”
“Ya maaf” Pinta mereka.
“Ya udah ayo berangkat, nanti telat lagi” Ucapku dengan perasaan yang masih kesal.
Di sepanjang perjalanan kami hanya diam, tak ada satu patah kata pun yang terucap dari mulut kami. Kalau aku jelas diam, karena aku masih kesal sama mereka. Tapi kalau mereka? Apa mungkin mereka masih merasa bersalah soal tadi. Huh, entahlah.
“Chel, Ma, aku mau ke toilet dulu ya” Pamitku pada kedua sahabatku.
“I.. iya” Jawab mereka gugup.
Author P.O.V.
“Tuh kan gara-gara loe sih, Chrisa jadi marah deh” Tuduh Rachel.
“Lah.. kok gue”
“Ya gara-gara loe lah. Udah ah.. gue mau ke kelas aja” Ucap Rachel meninggalkan Bima.
“Ih.. dasar! Cewek emang egois” Ucap Bima yang masih dapat didengar oleh Rachel.
“Gue denger ya” Jawab Rachel dengan muka geram.
“Hehehehe…. kabooorrr!” Teriak Bima.
“Biiimaaaaa” Teriak Rachel mengejar Bima.
Sementara itu, terlihat segerombolan cewek yang menghadang Chrisa di depan gudang dekat toilet. Chrisa ingin melewati segerombolan cewek tersebut, namun dia tak bisa. Mereka menghalangi jalan Chrisa.
“Eh guys, kasih jalan. Kasihan tuh si Pincang mau lewat” Ucap salah satu gadis itu.
“Emmm, kasih gak ya?” Balas gadis yang lain.
“Jangan! Kan sayang kalau kita lepasin, mending kita…” Ucap Brenda selaku ketua genk tersebut dengan senyum devilnya.
“Kalian mau apa?” Tanya Chrisa ketakukan karena gerombolan cewek itu mendekatinya.
“Balikin tongkat aku, aku gak bisa jalan tanpa tongkat itu” Pinta Chrisa.
“Loe mau tongkat ini, ambil tuh!” Jawab Brenda sambil melempar tongkat Chrisa.
“Kenapa sih kalian selalu menggangguku? Apa salah aku sama kalian?” Tanya Chrisa dengan air mata yang membasahi pelupuk matanya.
“Loe mau tau salah loe apa? Salah loe itu, banyak. Pertama loe salah karena loe udah masuk sekolah ini, kedua karena loe udah rebut posisi gue sebagai murid terpintar dan yang ketiga gara-gara loe, gue dikeluarin dari ekskul nyanyi” Jawab Brenda.
“Aku gak pernah ngambil posisi kamu sebagai murid terpintar dan kamu dikeluarin dari ekskul nyanyi karena kamu sering gak berangkat ekskul”
“Alah, dasar muna!!” Ucap Brenda menjambak rambut Chrisa.
“Aww.. sakit Bren, pliss lepasin” Pinta Chrisa merintih kesakitan.
“Loe mau gue ngelepasin jambakan gue? gak akan!” Jawab Brenda yang semakin erat menjambak Chrisa.
“Aww.. ampun Bren, ampun” Rengek Chrisa.
Akhirnya, Brenda melepaskan jambakannya. Setelah itu, Brenda membawa Chrisa ke gudang sekolah yang tak pernah disinggahi oleh siapapun. Brenda mendorong Chrisa ke dalam gudang, hingga kepala Chrisa membentur tembok dan melemparkan tongkat milik Chrisa ke dalam gudang, agar tak ada yang curiga, jika Chrisa berada di dalam. Kening Chrisa berdarah, namun Brenda tak memperdulikannya. Dia malah pergi meninggalkan Chrisa yang tengah merintih kesakitan dan mengunci pintu gudang tersebut.
Chrisa berusaha untuk meraih tongkat yang berada di dekat pintu gudang. Ia tidak peduli dengan luka di keningnya, namun semuanya sia-sia. Kakinya sangat sulit untuk digerakkan.
“Argh, Kaki gak berguna!! Kenapa aku dilahirkan dengan kaki yang seperti ini? Kenapa? Ini semua gak adil buat aku!” Teriak Chrisa sambil memukul-mukul kakinya.
Bel pulang telah berbunyi. Siswa-siswi SMA GLOBAL SUN telah berhamburan keluar kelas. Terlihat seorang gadis sedang berjalan dengan perasaan yang gelisah sembari melihat ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba dari arah belakang ada seorang lelaki yang menabraknya.
“Eh, sorry-sorry gue gak sengaja” Ucap laki-laki tersebut.
“Aw.. sakit tau” Rengek gadis itu.
“Lah Rachel, gue kira siapa” Ucap laki-laki tersebut.
“Bima, ngeselin banget sih loe. Gak pagi, gak siang, gak sore, gak malam selalu bikin gara-gara sama gue” Balas gadis itu, yang ternyata Rachel.
“Lebay loe. Ngomong-ngomong Chrisa mana? Kok gue gak liat dari tadi?” Tanya Bima. Bima memang tak sekelas dengan Chrisa dan Rachel.
“Itu dia, tadi waktu dia pamit sama kita ke toilet, dia gak balik-balik lagi. Gue takut terjadi apa-apa sama Chrisa”
“Apa loe udah cari dia?”
“Udahlah. Gue udah cari dia kemana-mana tapi tetep gak ketemu. Apa kita telpon Om Ferdi aja?”
“Jangan! Mending kita cari Chrisa dulu sampe nanti sore. Kalau masih belum ketemu juga, baru kita telpon Om Ferdi”
“Ya udah deh”
Hari sudah semakin sore, namun tetap saja mereka tidak menemukan Chrisa. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang tak terpakai, ya! Gudang tempat Chrisa dikurung.
“Udah sore ni, gue capek” Keluh Rachel.
“Sama, gue juga capek. Kita udah cari Chrisa kemana-mana tapi nihil. Tinggal satu ruangan yang belum kita jamah”
Mereka tampak berfikir. “Gudang” Pekik mereka berdua.
“Ya, gudang itu yang belum kita jamah” Tunjuk Bima ke gudang dan berlari ke arah gudang diikuti oleh Rachel.
“Tapi, apa mungkin Chrisa di sini?” Tanya Rachel ragu.
“Maybe, lagian gak ada salahnya kan kita coba”
“Tapi, gimana caranya kita masuk? Pintunya kan ke kunci?”
“Kita dobrak”
“Hah” Teriak Rachel.
“Gila ya loe” Tambah Rachel.
“Mau bantu gak nih?” Tanya Bima yang menghiraukan perkataan Rachel.
“Ya udah deh, iya-iya” Jawab Rachel mengalah.
Braakk braakk braakk…
Setelah tiga kali mereka mencoba, akhirnya pintu itu berhasil mereka buka. Kaget! Itulah yang mereka rasakan ketika melihat Chrisa tersungkur dengan darah segar yang mengalir dari keningnya. Dengan sigap Bima dan Rachel membawa Chrisa ke rumah sakit dan segera menelpon Pak Ferdi ayah Chrisa.
Beberapa saat kemudian, Pak Ferdi datang.
“Bima, Rachel, kenapa Chrisa?” Tanya Pak Ferdi.
“Kami juga gak tau Om, tadi kami menemukan Chrisa di gudang yang terkunci” Jawab Bima.
“Bagaimana keadaan Chrisa, Dok?” Tanya Pak Ferdi kepada dokter yang telah selesai memeriksa Chrisa.
“Saat ini, keadaan Chrisa masih sangat lemah. Dan sebaiknya, jangan terlalu banyak diajak bicara” Jelas Dokter.
“Baik, Dok” Jawab Pak Ferdi.
“Kalau begitu, saya permisi dulu” Pamit dokter.
“Terima kasih, Dok” Balas Pak Ferdi.
Terlihat seorang gadis sedang terbaring di atas ranjang dengan infus yang menghiasi punggung tangannya, selain itu wajah gadis itu terlihat pucat dengan perban yang membelit kepalanya. Dia adalah Chrisa. Dia hanya ditemani oleh seorang laki-laki yang memakai kacamata, karena Bima dan Rachel, sahabatnya, sudah pulang sejak tadi. Laki-laki itu terus menggenggam tangan Chrisa sambil terus berdo’a, agar Chrisa cepat siuman.
“Dimana ini?” Tanya Chrisa pada dirinya sendiri.
“Wah.. indah banget danaunya” Lanjut Chrisa sambil berputar-putar mengelilingi taman yang berada di pinggir danau.
“Kamu suka?” Tanya seorang wanita yang mirip seperti bidadari.
“Aku suka ba..” Jawab Chrisa terpotong karena kaget dengan wanita yang ada di belakangnya tersebut.
“Mamah” Panggil Chrisa.
“Iya ini Mamah, Mamah kangen sekali sama kamu, Nak” Jawab wanita itu yang ternyata adalah mamah dari Chrisa.
“Chrisa juga kangen banget sama, Mamah” Balas Chrisa sembari memeluk mamahnya.
“Mamah tepatin janji Mamah kan? Mamah bawa kamu ke danau yang luas” Ucap mamah Chrisa melepas pelukan Chrisa.
“Iya, Mah. Makasih ya, Mah”
“Iya sayang. Kalau begitu kita jalan-jalan yuk” Ajak mamah Chrisa dan Chrisa membalas dengan anggukan.
Mereka pun menyusuri tepi danau sambil berbincang-bincang.
“Mah, Mamah kembali ya sama Chrisa dan papah. Biar kita bisa berkumpul lagi kaya dulu” Pinta Chrisa di sela-sela pembicarannya dengan sang mamah.
“Itu gak mungkin sayang, kehidupan Mamah dan kamu sekarang berbeda”
“Kalau begitu Chrisa ikut Mamah aja ya, Mah. Chrisa capek, Mah, teman-teman Chrisa selalu mengejek Chrisa, karena Chrisa gak sempurna”
“Chrisa, di dunia ini gak ada yang sempurna”
“Tapi buktinya, semua teman Chrisa sempurna mereka memiliki kaki yang normal”
“Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihannya masing-masing. Mungkin kamu memang memiliki kaki yang tidak sempurna tapi kamu memiliki hati yang sempurna belum tentu orang yang kakinya normal memiliki hati seperti kamu. Kamu adalah anak yang tegar, Mamah yakin kamu pasti bisa melewati ini semua”
“Makasih ya Mah, Chrisa janji Chrisa akan jadi anak yang tegar” Tekad Chrisa.
“Nah gitu dong, itu baru anak Mamah. Maaf ya Nak, Mamah tidak bisa menemani kamu lebih lama lagi, Mamah harus pergi dan jaga Papahmu baik-baik ya. Mamah sayang sama kamu” Pamit mamah Chrisa sambil mencium kening Chrisa.
“Tapi Mah, Chrisa masih kangen”
“Ingat Chrisa, Mamah akan selalu ada di hati kamu. Selamat tinggal” Ucap mamah Chrisa makin menghilang.
“Maaammmaaahhh” Teriak Chrisa.
“Chrisa, kamu kenapa?” Tanya Pak Ferdi pada Chrisa.
“Papah” Pekik Chrisa yang langsung memeluk Papahnya, tanpa peduli dengan selang infus yang menempel di punggung tanganya
“Chrisa, kamu kenapa sayang?” Tanya Pak Ferdi kembali.
“Chrisa gak papa kok, Pah. Chrisa sayang Papah”
“Papah juga sayang sekali sama kamu, Nak”
Malam ini, Chrisa lebih memilih menikmati dinginnya angin malam yang membelai lembut jaket yang ia pakai. Ia kini sedang berada di taman rumah sakit.
“Pah, apa Papah pernah merasa menyesal punya anak yang cacat kaya Chrisa?”
“Kenapa kamu tanya seperti itu?” Tanya balik Pak Ferdi.
“Ya mungkin aja Papah menyesal, karena seharusnya anak seusia Chrisa udah bisa ngelakuin semuanya sendiri, tapi Chrisa?” Jawab Chrisa tertunduk lesu.
“Chrisa, gak pernah sedikitpun terlintas di fikiran Papah kalau Papah menyesal punya anak seperti kamu. Papah malah bangga, punya anak seperti kamu, kamu adalah anugerah terindah yang sudah Tuhan titipkan sama Papah” Jelas Pak Ferdi sembari membelai lembut rambut anaknya itu.
“Tapi Chrisa selalu menyusahkan Papah, Chrisa gak bisa sekuat anak-anak yang lain, bahkan Chrisa gak bisa jaga diri Chrisa sendiri”
“Chrisa dengarkan Papah, kekuatan yang ada dalam diri seseorang itu bukan dilihat dari bagaimana ia bisa mengalahkan atau memenangkan sesuatu, tapi dari seberapa kuatkah dia dalam menghadapi cobaan yang ada. Dan jadikan perbedaan yang kamu miliki itu sebagai penyemangat dalam hidupmu”
“Terima kasih Pah, karena Papah udah jadi ayah sekaligus ibu buat Chrisa. Chrisa gak bisa bayangin kalau di dunia ini gak ada Papah. Chrisa sayang banget sama Papah, Papah adalah sumber dari detak jantung ini” Balas Chrisa memeluk Pak Ferdi.
“Sama-sama sayang. Papah juga sayang banget sama Chrisa” jawab Pak Ferdi membalas pelukan Chrisa.
“Ya udah sekarang kamu istirahat aja ya, katanya kamu mau cepat-cepat pulang?”
“Siap, Pah” Jawab Chrisa bersemangat.
READ MORE - Tak Ada Yang Sempurna(Part1)
 

Pengikut

Popular Posts