Kalah menang sudah biasa, hal ini yang biasanya diucapkan kepada seseorang pemenang yang kalah. Ya, seseorang pemenang, bukan pecundang yang kalah. Niatnya hanya ingin memberi kekuatan pada orang2 di sekitar kita yang mengalami kekalahan. Tapi bagiku, ucapan seperti itu hanya akan menambah kedukaan. Entah. Menurutku, jika aku kalah dan diberi nasihat seperti itu tidak akan ngefek, karena aku sudah sering mendengar hal seperti itu. Yang aku butuhkan adalah nasihat berkaitan dengan masalah yang kuhadapi dan bisa mengakar ke otak atau bahkan ke seluruh tubuh.
Sore ini, jam les belum berakhir. Entah. Tanganku tiba-tiba saja merogoh saku dan mengambil handphone. Ada satu pesan singkat untukku darimu. Pikiranku menduga yang tidak-tidak. Tapi sepertinya dugaanku benar. Dengan pertimbangan tentunya. Karena apabila kamu dan teman-temanmu menang, kemungkinannya sangat kecil jika kamu akan mengabariku langsung setelah futsal. Menurutku lebih besar kemungkinannya kamu akan langsung menghubungiku. Aku pun mengambil resiko untuk terus membalas pesan darimu meski masih jam les. Ternyata benar, tim futsalmu kalah dan kamu langsung menghubungiku. Aku ikut merasakan sakit. Membayangkan bahwa timmu yang kalah futsal itu adalah aku yang mendapat nilai tidak memuaskan. Dongkol? Tentu, aku merasa dongkol kalau kalah, tapi bagiku kekalahan dan luka bukan akhir dari segalanya. Dan juga ada sedikit celah kelegaan di hatiku. Kenapa? Karena kamu menghubungiku lebih dulu saat kamu terjatuh, itu artinya kamu sudah merasa nyaman denganku. Benar kan? Atau itu hanya khayalanku saja?
Les berakhir, aku melihat salah satu temanku yang ingin meminjam powerbank menungguku. Sayang sekali. Ya, benar-benar sayang. Aku lupa untuk membawanya. Kupikir kepercayaannya padaku menghilang sedikit. Bodohnya aku. Ya, inilah aku yang payah dalam berteman. Oleh sebab itu, aku merasa senang jika ada orang yang nyaman di sampingku.
Temanku itu membonceng salah satu anggota tim futsalmu. Lebih spesifiknya adalah ketua timmu. aku melihatnya, ya dia menangis tapi wajahnya ditutupi dengan jerseynya. Kami pernah dekat sewaktu kelas 8, jadi aku tahu betapa dia mencintai bola. Bukan hanya aku. Kamu dan mereka yang dekat dengannya juga mengetahuinya. Apa kamu tahu? Aku tidak suka melihatnya dilemahkan oleh kekalahan. Karena dia salah satu yang pernah menemani serta menghiasi hariku.
Lalu kamu. Kamu selalu bilang kekalahan ini karenamu. Aku tahu. Penyesalan yang besar mengahantuimu. Tapi, pernahkah kamu berpikir, meski kamu tak berhenti menyalahkan dirimu sendiri semuanya tidak akan berubah. Atau mungkin menurutmu itu bisa membayar kesalahanmu? Jika aku jadi kamu, sebelum mengikuti lomba itu aku akan menata hatiku agar siap menghadapi apaun yang terjadi dan berserah diri kepada Allah. Tidak terlalu bahagia ketika menang sehingga tidak memunculkan kesombongan, dan juga tidak terlalu sedih ketika kalah agar tidak putus asa. Maksudku menghadapinya biasa-biasa saja, karena perasaan seperti ini adalah kebahagiaan sesungguhnya. Rasanya seperti tidak ada beban.
Ngomong-ngomong soal beban, sepertinya kamu dan teman-temanmu menanggung beban yang berat ya? Atau itu hanya pikiranku saja? Karena banyak guru yang menonton pertandingan timmu hari ini. di sisi lain, wali kelas kita tidak mendukung futsal ini. Tapi entah mengapa, teman-temanmu begitu yakin akan kemenangan sore ini. Haha, padahal baru menag sekali. Dan juara futsal di smp sendiri itu bukan jaminan tentang kehebatan timmu. walaupun logikanya begitu, aku percaya dengan timmu. semangat kalian sangat besar. Do’aku, semoga kalian masuk final. Amiin. Dan untuk kamu, jangan mudah putus asa. Dalam keadaan apapun jika kamu membutuhkanku, akan ku lakukan yang terbaik untuk membantumu.
sumber:http://cecinitafelia.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar