Pada suatu ketika Bapak dan Ibuku bertengkar, entah apa yang
dipermasalahkannya. Pada saat itu aku bertanya kepada ibu. “Ibu, mengapa
Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita
Nak”. “Aku tak mengerti”. Ibuku hanya tersenyum dan memelukku erat.
“Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti…”
Kemudian, aku bertanya kepada Bapakku. “Pak mengapa Ibu menangis?
Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Bapakku menjawab,
“Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang
bisa diberikan Bapak.
Ibuku hanyalah seorang penjahit yang kemudian pergi ke surabaya
menjadi pembantu rumah tangga disana, sedangkan Bapakku berstatus
pengangguran. Terkadang kerja terkadang tidak.
Ketika Bapak pulang larut malam Ibuku bertanya kepada Bapakku “Dari mana
saja kamu, jam segini kok baru pulang?”, bukannya dijawab eh Ibu malah
dimarahin sama Bapakku. Pada saat itulah terjadi pertengkaran yang
begitu dahsyat.
Di keesokan harinya Bapakku pun pergi lagi, entah pergi kemana. Dalam
hati Ibu tak ada kebahagiaan yang dirasakannya, akan tetapi
kesedihanlah yang selalu Ibuku rasakan selama ini. Ibu selalu memikirkan
apa yang akan dimakan sehari-sehari untuk anaknya, belum lagi biaya
sekolah ku yang begitu besar yang harus ditanggungnya disaat melihat
Bapak yang pengangguran.
Pada saat itu ibuku berpesan kepadaku dan kakak-kakakku “Nak, kamu
jangan mencontoh perilaku Bapakakmu. Seperti itu telah membuat hati ibu
sakit”. Kami pun menjawab, “Ya ibu, aku akan berbakti kepada ibu dan
Bapak, walau bagaimanapun juga dia Bapakku”.
Dan pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang bertamu ke rumah,
yang ternyata laki-laki itu adalah pihak bank yang ingin menagih hutang
ke rumah. Padahal Ibuku tidak tau akan hal itu, Ibuku bingung buat apa
Bapak hutang sebanyak itu. Ibuku tidak pernah menerima sepeser pun uang
yang dihutangi bapak.
Setelah Ibuku tahu hutang Bapak yang begitu besar, Ibuku sangat
terpukul dan sering menangis karena takut rumahnya disita dan takut akan
tinggal dimana anak-anaknya nanti. Jika Rumanya disita pihak Bank.
Belum lagi nasib sekolah ku yang selama ini biaya SPP ku sudah tiga
bulan belum dilunasi, Ibuku takut aku akan berhenti sekolah jika tidak
ada biaya.
Pada saat itu yang aku pikirkan adalah kesabaran Ibuku yang begitu
besar. Walaupun apa yang terjadi, Ibuku selalu memikirkan masa depan
anak-anaknya. dan mengapa Bapak begitu tega menyakiti ibu, menghianati
ibu. Dalam seyumanya Ibu selalu menyembunyikan keletihannya. Derita
siang dan malam yang menimpanya, tak sedikitpun menghentikan langkah ibu
untuk bisa memberi harapan baru bagiku.
Dan pada suatu ketika tepatnya sore hari Bapakku pulang, Ibuku memarahi bapak dan
Ibu bertanya “Kenapa kamu hutang sebanyak itu kepada pihak Bank?”,
Bapakku menjawab “Karena aku memakai uang itu untuk membuka usaha, akan tetapi usaha itu gagal sia-sia”.
Ibuku tidak percaya dengan semua yang diucapkan Bapakku.Dan pada saat
itulah Ibuku mengucapkan sebuah kata “PERCERAIAN” aku dan kakakku
mendengar akan hal itu. Kami pun bersedih karena keluarga kami tidak
akan utuh lagi, akan tetapi jika Bapak dan Ibuku tidak berpisah kami
juga sedih karena kami tidak tega melihat Ibu sering disakiti oleh
Bapak.
Di malam harinya dengan perasaan hancur dan sesak, perlahan sang ibu
paksakan diri untuk berdiri dan keluar dari kamar untuk menghampiri ku,
ketika dilihatnya aku dengan kondisi penampilan yang kacau, ibu pun
tersenyum. Ibuku berkata padaku kalau Ibu ingin pergi ke Surabaya untuk
bekerja disana menjadi pembantu rumah tangga. Aku pun diam tanpa kata,
aku hanya menangis dan takut akan ditinggalkan oleh Ibuku, karena tidak
bisa membayangkan bagaimana jadinya jika nanti aku di tinggalkan Ibuku.
Namun harus bagaimana lagi jika Ibu tidak pergi untuk mencari uang, Aku
pun takut berhenti sekolah dengan sia-sia karena tidak ada biaya.
Ibuku selalu bersedih dan meneteskan air mata nya, Ibuku selalu bilang
padaku “Bersabarlah nak”. Ibu tidak tahu apa yang harus ibu lakukan
selain pergi kesana buat mencari uang untuk biaya sekolah kamu”. Disitu
aku berfikir sungguh mulianya ibuku, dia mengorbankan seluruh jiwanya
untuk hidupku.
Di keesokan harinya Ibuku siap-siap akan pergi ke surabaya, disaat
bapak tidak ada di rumah. Sebelem pergi Ibuku berpesan padaku dan
kakak-kakakku untuk saling menjaga dan melindungi satu sama lain.
Walaupun apa yang terjadi pada kalian, kalian harus bersabar dan berdo’a
meminta petunjuk kepada Allah swt.
Disaat Bapak sudah tahu Ibu sudah pergi, bapak tidak pernah pulang
selama 1 minggu lebih. Entah pergi kemana. Pihak Bank pun selalu
mendatangi ke rumah sedangkan kami tidak tahu apa-apa akan hal itu.
Kemudian di keesokan harinya ibuku menelfon dan berkata pada kami,
kalau Bapak sudah menikah lagi dengan perempuan lain dan Ibuku dan Bapak
akan bercerai. Kami pun hanya bisa pasrah dan hanya mengingat apa yang
dikatakan oleh ibuku yaitu “Berdo’a dan meminta petunjuk kepada Allah”.
Dan pada tanggal 29 April 2013 Ibuku pulang ke rumah kami pun senang,
karena kami rindu akan kedatangan Ibu. Akan tetapi ibu memberitahu pada
kami, kalau ibu akan bercerai dengan Bapak pada hari itu juga.
Pada saat itu juga Ibuku pun bergegas pergi ke pengadilan dengan
kakakku, setelah usai ke pengadilan ibu akan pergi lagi ke Surabaya.
Sebelum ibuku pergi ibu berkata padaku kalau ibu sudah resmi bercerai
dengan bapak.
Disaat ibuku berpesan seperti itu aku jadi ingat apa yang pepatahkatakan
yaitu: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang
kenangan” Inilah kasih seorang ibu yang terus dan terus memberi kepada
anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang ibu
demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan
sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai
sekarang, aku akan mengingat dimanapun aku berada karena: “Aku
Mencintaimu, Aku Mengasihimu… selamanya, Terimakasih Ibu”.
Disaat ibu pergi kami seperti hidup sebatang kara, tidak ada Bapak dan
tidak ada Ibu. begitu juga denganku, aku benar-benar kehilangan sosok
ibu yang telah pergi. “Ya Robb.. itukah rasanya ditinggal orang yang
amat sangat kita kasihi, tak memandang dia orang kuat atau lemah, yang
ada pasti kesedihan yang berkecamuk, jika mengingat-ingat pasti butir
butir airmata berjatuhan tak tertahan”. Kami sangat merindukan kedua
orangtua kami.
Akan tetapi kami senang karena kami bisa hidup menjadi mandiri. Pada
saat itu kami merubah gaya hidup kami yang berantakan dan terkesan
ugal-ugalan menjadi lebih baik. begitu juga denganku. aku bisa menjadi
seorang perempuan mandiri tanpa adanya sosok ibu. kehidupan sederhana
tidak menyusutkan semangat belajarku. Kini aku harus benar-benar bisa
membagi waktu untuk kegiatan di rumah dan di sekolah.
Aku tidak perduli walaupun aku berangkat ke sekolah akhir-akhir ini
sering tidak sarapan dan tak ada uang saku. walaupun aku berangkat ke
sekolah hanya menaiki sepeda mini yang aku miliki. Aku sama sekali tidak
perduli, karena yang aku inginkan hanyalah membahagiakan ibuku dan
membuatnya tersenyum. Dengan bisa sekolah saja aku bersyukur sekali,
karena aku bisa menggapai cita-citaku nanti.
Di sekolahanku ada pembagian raport untuk kenaikan kelas, disaat itu
aku sempat iri dengan teman-temanku, karena orangtua mereka sempat
menyenyempatkan dirinya pergi ke sekolah untuk mengambil raport demi
anaknya. Sedangkan aku sama sekali tidak ada yang menyempat dirinya,
untuk datang ke sekolah mengambil raport ku. Aku sadar sih memang ibuku
ada di Surabaya dan kakakku sibuk kerja.
Pada saat itu Allah berkehendak lain kepada ku. Allah Maha penyayang dan
Maha pengasih, setelah aku buka raportku ternyata aku menjadi juara
kelas di kelasku dan aku tidak menyangka akan hal ini bisa terjadi pada
ku. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan akan hal ini terjadi padaku,
menjadi juara satu di kelas adalah sesuatu hal yang dulu- dulunya aku
impikan dan kini telah terwujud “Maha Besar Allah”. Dan pada saat itulah
aku sadar bahwa Allah itu memberikan cobaan pasti ada hikmanya dan akan
indah pada waktunya. Kini aku senang karena aku bisa membahagiakan
Ibuku dan membuatnya tersenyum. Subhanallah… jika itu adalah harapan dan
hadiah terbesar untukmu ibu, maka aku pastikan aku akan terus dan terus
berusaha mencapai itu.
Pepatah mengatakan Hidup adalah tantangan. Dan orang yang tak mau bersaing dalam tantangan itu, sulit baginya untuk maju.
Dan kini “Ibuku adalah orang yang mengajariku tentang arti kesabaran dan
Ibu adalah Pahlawan yang Tak memiliki Sayap dan Kekuatan super, Tapi
Ibu memiliki Kekuatan Hati yang Super”.
Bukan hanya itu, Ibu adalah sosok wanita yang pantas mendapatkan segala
bentuk kebaikan, karena sosok ibulah aku bisa terlahir dan karena sosok
ibulah kita bisa merasakan indahnya kasih sayang dan kehangatan dari
seorang ibu.
Saya yakin bahwa kita semua terlahir dari seorang ibu yang melahirkan
hingga besar karena kasih sayangnya dan perjuangannya. Kasih sayang
seorang Ibu adalah bahan bakar yang memampukan Ibu untuk melakukan
hal-hal yang mustahil dilakukan.
Sebelum engkau dikandung, Ibu menginginkan engkau ada. Sebelum engkau
dilahirkan, Ibu telah mengasihimu. Sebelum engkau keluar dari
kandungan, Ibu pun rela mati untukmu. Inilah keajaiban kasih sayang Ib
oleh karena itu untuk kalian yang saat ini memiliki ibu, bersyukurlah
kalian karena Ibu itu segalanya buat kita. Terkadang ibu memang sering
kali memarahi kita, akan tetapi tahukah kalian?. Ibu marah itu karena
sayang kepada kita, takut akan kehilangan kita oleh karena itu mulai
dari sekarang sayangilah ibu kalian sebelum terlambat.
Di dalam cerita ini adalah kisah-kisah pribadi tentang Ibuku serta kesabaran ibuku dalam menghadapi cobaan.
Semoga cerita ini bisa berguna bagi yang membacanya. Dan mohon maaf jika
ada kesalahan kata-kata. Sekian, saya ucapkan terimakasih.
Pages
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar