Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Kesabaran Ibuku

Pada suatu ketika Bapak dan Ibuku bertengkar, entah apa yang dipermasalahkannya. Pada saat itu aku bertanya kepada ibu. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita Nak”. “Aku tak mengerti”. Ibuku hanya tersenyum dan memelukku erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti…”
Kemudian, aku bertanya kepada Bapakku. “Pak mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Bapakku menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan Bapak.
Ibuku hanyalah seorang penjahit yang kemudian pergi ke surabaya menjadi pembantu rumah tangga disana, sedangkan Bapakku berstatus pengangguran. Terkadang kerja terkadang tidak.
Ketika Bapak pulang larut malam Ibuku bertanya kepada Bapakku “Dari mana saja kamu, jam segini kok baru pulang?”, bukannya dijawab eh Ibu malah dimarahin sama Bapakku. Pada saat itulah terjadi pertengkaran yang begitu dahsyat.
Di keesokan harinya Bapakku pun pergi lagi, entah pergi kemana. Dalam hati Ibu tak ada kebahagiaan yang dirasakannya, akan tetapi kesedihanlah yang selalu Ibuku rasakan selama ini. Ibu selalu memikirkan apa yang akan dimakan sehari-sehari untuk anaknya, belum lagi biaya sekolah ku yang begitu besar yang harus ditanggungnya disaat melihat Bapak yang pengangguran.
Pada saat itu ibuku berpesan kepadaku dan kakak-kakakku “Nak, kamu jangan mencontoh perilaku Bapakakmu. Seperti itu telah membuat hati ibu sakit”. Kami pun menjawab, “Ya ibu, aku akan berbakti kepada ibu dan Bapak, walau bagaimanapun juga dia Bapakku”.
Dan pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang bertamu ke rumah, yang ternyata laki-laki itu adalah pihak bank yang ingin menagih hutang ke rumah. Padahal Ibuku tidak tau akan hal itu, Ibuku bingung buat apa Bapak hutang sebanyak itu. Ibuku tidak pernah menerima sepeser pun uang yang dihutangi bapak.
Setelah Ibuku tahu hutang Bapak yang begitu besar, Ibuku sangat terpukul dan sering menangis karena takut rumahnya disita dan takut akan tinggal dimana anak-anaknya nanti. Jika Rumanya disita pihak Bank. Belum lagi nasib sekolah ku yang selama ini biaya SPP ku sudah tiga bulan belum dilunasi, Ibuku takut aku akan berhenti sekolah jika tidak ada biaya.
Pada saat itu yang aku pikirkan adalah kesabaran Ibuku yang begitu besar. Walaupun apa yang terjadi, Ibuku selalu memikirkan masa depan anak-anaknya. dan mengapa Bapak begitu tega menyakiti ibu, menghianati ibu. Dalam seyumanya Ibu selalu menyembunyikan keletihannya. Derita siang dan malam yang menimpanya, tak sedikitpun menghentikan langkah ibu untuk bisa memberi harapan baru bagiku.
Dan pada suatu ketika tepatnya sore hari Bapakku pulang, Ibuku memarahi bapak dan
Ibu bertanya “Kenapa kamu hutang sebanyak itu kepada pihak Bank?”,
Bapakku menjawab “Karena aku memakai uang itu untuk membuka usaha, akan tetapi usaha itu gagal sia-sia”.
Ibuku tidak percaya dengan semua yang diucapkan Bapakku.Dan pada saat itulah Ibuku mengucapkan sebuah kata “PERCERAIAN” aku dan kakakku mendengar akan hal itu. Kami pun bersedih karena keluarga kami tidak akan utuh lagi, akan tetapi jika Bapak dan Ibuku tidak berpisah kami juga sedih karena kami tidak tega melihat Ibu sering disakiti oleh Bapak.
Di malam harinya dengan perasaan hancur dan sesak, perlahan sang ibu paksakan diri untuk berdiri dan keluar dari kamar untuk menghampiri ku, ketika dilihatnya aku dengan kondisi penampilan yang kacau, ibu pun tersenyum. Ibuku berkata padaku kalau Ibu ingin pergi ke Surabaya untuk bekerja disana menjadi pembantu rumah tangga. Aku pun diam tanpa kata, aku hanya menangis dan takut akan ditinggalkan oleh Ibuku, karena tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika nanti aku di tinggalkan Ibuku. Namun harus bagaimana lagi jika Ibu tidak pergi untuk mencari uang, Aku pun takut berhenti sekolah dengan sia-sia karena tidak ada biaya.
Ibuku selalu bersedih dan meneteskan air mata nya, Ibuku selalu bilang padaku “Bersabarlah nak”. Ibu tidak tahu apa yang harus ibu lakukan selain pergi kesana buat mencari uang untuk biaya sekolah kamu”. Disitu aku berfikir sungguh mulianya ibuku, dia mengorbankan seluruh jiwanya untuk hidupku.
Di keesokan harinya Ibuku siap-siap akan pergi ke surabaya, disaat bapak tidak ada di rumah. Sebelem pergi Ibuku berpesan padaku dan kakak-kakakku untuk saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Walaupun apa yang terjadi pada kalian, kalian harus bersabar dan berdo’a meminta petunjuk kepada Allah swt.
Disaat Bapak sudah tahu Ibu sudah pergi, bapak tidak pernah pulang selama 1 minggu lebih. Entah pergi kemana. Pihak Bank pun selalu mendatangi ke rumah sedangkan kami tidak tahu apa-apa akan hal itu.
Kemudian di keesokan harinya ibuku menelfon dan berkata pada kami, kalau Bapak sudah menikah lagi dengan perempuan lain dan Ibuku dan Bapak akan bercerai. Kami pun hanya bisa pasrah dan hanya mengingat apa yang dikatakan oleh ibuku yaitu “Berdo’a dan meminta petunjuk kepada Allah”.
Dan pada tanggal 29 April 2013 Ibuku pulang ke rumah kami pun senang, karena kami rindu akan kedatangan Ibu. Akan tetapi ibu memberitahu pada kami, kalau ibu akan bercerai dengan Bapak pada hari itu juga.
Pada saat itu juga Ibuku pun bergegas pergi ke pengadilan dengan kakakku, setelah usai ke pengadilan ibu akan pergi lagi ke Surabaya. Sebelum ibuku pergi ibu berkata padaku kalau ibu sudah resmi bercerai dengan bapak.
Disaat ibuku berpesan seperti itu aku jadi ingat apa yang pepatahkatakan yaitu: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan” Inilah kasih seorang ibu yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang ibu demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, aku akan mengingat dimanapun aku berada karena: “Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu… selamanya, Terimakasih Ibu”.
Disaat ibu pergi kami seperti hidup sebatang kara, tidak ada Bapak dan tidak ada Ibu. begitu juga denganku, aku benar-benar kehilangan sosok ibu yang telah pergi. “Ya Robb.. itukah rasanya ditinggal orang yang amat sangat kita kasihi, tak memandang dia orang kuat atau lemah, yang ada pasti kesedihan yang berkecamuk, jika mengingat-ingat pasti butir butir airmata berjatuhan tak tertahan”. Kami sangat merindukan kedua orangtua kami.
Akan tetapi kami senang karena kami bisa hidup menjadi mandiri. Pada saat itu kami merubah gaya hidup kami yang berantakan dan terkesan ugal-ugalan menjadi lebih baik. begitu juga denganku. aku bisa menjadi seorang perempuan mandiri tanpa adanya sosok ibu. kehidupan sederhana tidak menyusutkan semangat belajarku. Kini aku harus benar-benar bisa membagi waktu untuk kegiatan di rumah dan di sekolah.
Aku tidak perduli walaupun aku berangkat ke sekolah akhir-akhir ini sering tidak sarapan dan tak ada uang saku. walaupun aku berangkat ke sekolah hanya menaiki sepeda mini yang aku miliki. Aku sama sekali tidak perduli, karena yang aku inginkan hanyalah membahagiakan ibuku dan membuatnya tersenyum. Dengan bisa sekolah saja aku bersyukur sekali, karena aku bisa menggapai cita-citaku nanti.
Di sekolahanku ada pembagian raport untuk kenaikan kelas, disaat itu aku sempat iri dengan teman-temanku, karena orangtua mereka sempat menyenyempatkan dirinya pergi ke sekolah untuk mengambil raport demi anaknya. Sedangkan aku sama sekali tidak ada yang menyempat dirinya, untuk datang ke sekolah mengambil raport ku. Aku sadar sih memang ibuku ada di Surabaya dan kakakku sibuk kerja.
Pada saat itu Allah berkehendak lain kepada ku. Allah Maha penyayang dan Maha pengasih, setelah aku buka raportku ternyata aku menjadi juara kelas di kelasku dan aku tidak menyangka akan hal ini bisa terjadi pada ku. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan akan hal ini terjadi padaku, menjadi juara satu di kelas adalah sesuatu hal yang dulu- dulunya aku impikan dan kini telah terwujud “Maha Besar Allah”. Dan pada saat itulah aku sadar bahwa Allah itu memberikan cobaan pasti ada hikmanya dan akan indah pada waktunya. Kini aku senang karena aku bisa membahagiakan Ibuku dan membuatnya tersenyum. Subhanallah… jika itu adalah harapan dan hadiah terbesar untukmu ibu, maka aku pastikan aku akan terus dan terus berusaha mencapai itu.
Pepatah mengatakan Hidup adalah tantangan. Dan orang yang tak mau bersaing dalam tantangan itu, sulit baginya untuk maju.
Dan kini “Ibuku adalah orang yang mengajariku tentang arti kesabaran dan Ibu adalah Pahlawan yang Tak memiliki Sayap dan Kekuatan super, Tapi Ibu memiliki Kekuatan Hati yang Super”.
Bukan hanya itu, Ibu adalah sosok wanita yang pantas mendapatkan segala bentuk kebaikan, karena sosok ibulah aku bisa terlahir dan karena sosok ibulah kita bisa merasakan indahnya kasih sayang dan kehangatan dari seorang ibu.
Saya yakin bahwa kita semua terlahir dari seorang ibu yang melahirkan hingga besar karena kasih sayangnya dan perjuangannya. Kasih sayang seorang Ibu adalah bahan bakar yang memampukan Ibu untuk melakukan hal-hal yang mustahil dilakukan.
Sebelum engkau dikandung, Ibu menginginkan engkau ada. Sebelum engkau dilahirkan, Ibu telah mengasihimu. Sebelum engkau keluar dari kandungan, Ibu pun rela mati untukmu. Inilah keajaiban kasih sayang Ib oleh karena itu untuk kalian yang saat ini memiliki ibu, bersyukurlah kalian karena Ibu itu segalanya buat kita. Terkadang ibu memang sering kali memarahi kita, akan tetapi tahukah kalian?. Ibu marah itu karena sayang kepada kita, takut akan kehilangan kita oleh karena itu mulai dari sekarang sayangilah ibu kalian sebelum terlambat.
Di dalam cerita ini adalah kisah-kisah pribadi tentang Ibuku serta kesabaran ibuku dalam menghadapi cobaan.
Semoga cerita ini bisa berguna bagi yang membacanya. Dan mohon maaf jika ada kesalahan kata-kata. Sekian, saya ucapkan terimakasih.
READ MORE - Kesabaran Ibuku

Tersesat

Pada suatu hari yang terlalu cerah, ada dua pelajar yang bernama Yanto Ediman dan Edward Jeremi Wijaya yang sedang berjalan-jalan mencari uang di di kamar Jeremi.
“Hey Jeremi, aku menemukan uang 500 rupiah di bawah kasurmu!” Ucap Ediman dengan sangat girang setelah berjam-jam mencari uang 500 rupiah tersebut.
Akhirnya, setelah mereka membeli permen dengan uang tersebut, mereka tersasar. Mereka sedih karena tidak tahu arah jalan pulang bagaikan butiran debu. Tanpa berpikir panjang, Yanto mengajak Jeremi untuk berlari tanpa tujuan dan berharap dapat kembali ke rumah Jeremi. Mereka berlari-lari berjam-jam mengelilingi kampung sampai warga setempat terheran-heran.
“Yanto, aku sudah tidak kuat lagi!” Ucap Jeremi tersengal-sengal.
“Yah, cupu nih Jeremi, udah lah, beberapa mil lagi pasti kita akan menemukan rumahmu, kamu kan juga pemain sepak bola liga Kampung Makmur, pasti tenaganya gak habis-habis.” Bujuk Yanto pada Jeremi.
“Bumi ini memang segeda apa sih?! kayaknya kita dari tadi berjalan tak bisa menemukan rumahmu.” Ucap Jeremi dengan kesal.
“Bumi itu Planet yang besar, kayak perutmu yang bulat.” Balas Yanto pada Jeremi.
Beberapa ribu centimeter dari tempat Jeremi dan Yanto berdiri, ada seorang Satpam yang penasaran apa yang terjadi dengan kedua anak tersebut. Saptam tersebut mendatangi Jeremi dan Yanto dengan perlahan. “Kalian kenapa? Kalian orang normal kan? Apa yang kalian lakukan tengah malam begini?” Tanya satpam tersebut dengan heran.
“Kita tersesat Pak, saya tinggal di Jl. SesamaMakmurah blok. J no. 96, apakah bapak tau tempatnya?” Tanya Jeremi dengan percaya diri.
“Oh itu, kalau itu saya tau, deket kok dari sini, nanti adek ke perempatan sebelah sana terus belok kanan.” Jawab Saptpam tersebut.
“Oooo, begitu ya pak. Kalau begitu terima kasih ya sudah mau membantu kami.” Ucap Jeremi.
Akhirnya Jeremi dan Yanto pergi ke permpatan dan belok kanan. mereka sangat bahagia, bangga dan menggila karena sudah bisa kembali ke rumah Jeremi.
“Jeremi, kita sudah sampai dirumahmu, sekarang aku mau pulang, apakah kau bisa mengantarkanku? Soalnya aku tidak berani malam-malam berjalan sendiri.” Tanya Yanto.
Jeremi pun akhirnya mengantarkan Yanto kembali ke rumahnya. Setelah itu, saat perjalanan pulang, ia kembali tersesat. Ia pun menangis berjam-jam hingga warga setempat terheran-heran.
Pada keesokan harinya, Jeremi ditemukan oleh supirnya di dalam tong, sendiri dan tak ada yang menemani bagaikan butiran debu.
READ MORE - Tersesat

Kehujanan

Jam 06.15 tepatnya, aku mandi untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Ketika selesai aku pun memakai baju seragam dan bersiap untuk sarapan pagi, lalu berangkat.
Ketika aku berangkat sekolah aku selalu melewati jalan “galian” begitu kata orang-orang, apalagi di pengujung tahun ini yaitu musim hujan tanahnya begitu becek, licin dan jauh dari sekolah ku, untung saja aku menaiki motor. Namun jalan yang begitu becek membuat motor yang aku naiki hampir saja terpeleset dan jatuh, begitu kagetnya aku karena baju seragam ku jika aku sampai jatuh akan terkena tanah yang basah atau becek.
Setibanya di sekolah aku belajar seperti biasa dengan teman-temanku. Ketika bel pulang berbunyi aku mempunyai jam tambahan di sekolah. Namun setelah selesai tiba-tiba hujan yang besar turun dan petir pun menggelegar, apa boleh buat aku harus menunggu hujan reda. Namun apadaya hujan tak kunjung berhenti, selagi hujan mengecil aku berlari ke arah motor aku lalu pergi untuk pulang ke rumah
Setibanya di pertengahan jalan hujan begitu lebat, dingin rasanya untuk melanjutkan perjalanan dan aku pun berhenti di masjid untuk berteduh sekalian melaksanakan shalat Ashar. Sekali lagi hujan tak kunjung berhenti, selagi hujan kecil pun aku bergegas pulang, tak peduli jalan begitu licin atau baju basah. Setibanya di rumah aku sungguh kedinginan dan menggigil, apalagi ketika mandi airnya begitu dingin. untung ibu ku membuatkan ku teh yang hangat.
READ MORE - Kehujanan

Karena Dia

Karena dia hidupku jauh lebih bersinar tapi Karena dia juga hatiku menjadi terluka. Sendirian tertutup begitulah aku. Aku punya hobi bermain basket ya tapi aku hanya bermain secara personal. bertanding dan ikut suatu tim adalah suatu yang membuang waktu. lagipula aku orang yang tertutup dan pemalu.
Semua ini berawal ketika aku bermain basket di lapangan indoor sekolah waktu itu aku kira semua murid sudah pulang tapi dia memergokiku bermain basket. Dia pun memaksaku begabung, dengan usaha kerasnya aku tidak bisa menolak. Dari sanalah kau mulai menyukainya dadaku semakin sesak dia membuatku mampu bersosialisasi.
Hari ini adalah saatnya saat untuk menyatakan perasaanku sekaligus hari pertandingan pertamaku melawan sekolah lain. tapi hari itu gak berjalan mulus seperti yang kukira. pada saat berjalan aku tidak sengaja mendergar percakapan dia dengan temanya. “Dil loe punya orang yang loe suka nggak secara loe kan cantik”.
“Iya bener tuh eh loe kan lagi deket sama cowok yang baru gabung ke tim basket kita”.
“Ah gak mungkin loe kan suka sama hendrik dari dulu kan dan alasan loe ajak cowok itu gabung di tom pasti karena permintaan dia”.
Tiba-tiba dia diam, aku belum pernah melihat wajahnya yang malu seperti itu. jadi karena itu semua karena permintaan sahabatku ternyata mereka berdua menusukku dari belakang. Kukira semua kebaikan itu adalah cinta tapi kenapa?
Aku pun masuk sekolah dengan perasaan sakit. hari ini mereka mencoba menyapaku aku hanya menghindari mereka berdua. Hatiku masih sakit mengingat semuanya aku bahkan pulang dan melewatkan hari pertamaku bertanding basket dengan sekolah lain aku sudah tidak peduli semua. Di kamar aku pun meneteskan air mata, ini pertama kalinya aku terluka seperti ini, apakah ini bisa sembuh, semua rasa sakit ini?
READ MORE - Karena Dia

Senandung Untuk My Mother

Masih ingatkah kau dongeng tentang Malin Kundang, sang anak durhaka itu? Tentu kau masih ingat bukan, tak mungkin kau tak tahu karena cerita, itu rutin dijadikan dongeng pengantar tidur oleh ibumu. Hey, tapi kau jangan berpikir itu aku. Aku hanya bertanya saja, karena saat kau mengingat malin si durhaka itu memaki ibunya yang renta maka akan kau bisa gambarkan siapa ibu ku. Ya kau benar, ibuku adalah seorang wanita tua yang rambutnya belum memutih semua tapi dia tak serenta ibu Malin sombong itu, ibu ku sedikit bungkuk karena ibuku hampir tak pernah berhenti membawa kehidupan si padi muda ke tanah sawah yang bancah untuk kehidupan kami, kulit ibuku juga hitam legam karena sinar matahari terlalu banyak memberikan pancarannya, mata ibuku nanar karena ada beberapa lemak nakal bersarang disana hasil dari selama ini ibuku tak pernah melemparkan pandangannya pada mall nan megah, yang dilihat ibu hanya warna hijau padi muda dan kuning padi tua, lalu lihatlah kuku ibuku ada hitam yang tersembul di ujungnya, tapi itu bukan hitam yang menempel sesaat dan akan menghilang beberapa saat setelah kau gosok dengan jeruk nipis, tapi itu hitam yang bertahan karena getah getah pisang dan lumpur sawah yang melekat.
Kemudian kau rasakan telapak tangan ibuku, apa yang kau rasa? Kasar? Benar, telapak tangan ibuku kasar karena pupuk dengan zat kimianya itu selalu jadi teman ibuku setelah padi muda itu di tanam dan sebelum padi kuning itu memamerkan bulir bulir rupiahnya pada ibuku. Nafas ibuku juga sengau karena seruling bambu akan menjadi tiupan nan berdendang pada arang dan tungku nasi saat perut suami dan anaknya tengah beradu pada cacing cacing yang meronta. Lalu kau lihat juga telapak kaki ibuku? Pecah pecah? Tentu, telapak kaki ibuku seperti itu bukan karena jamur jahat yang besemayam disana ataupun juga keseringan memakai sepatu kulit yang tertutup. Kulit adalah barang mahal bagi ibuku, sangat mahal jadi tak mungkin ibuku punya, sandal jepit baru saja itu pun baru dibeli kemarin oleh ibuku sisa dari upah bertanam ketela Pak Haji, mandor ibu. Tapi telapak kaki ibuku pecah pecah karena berkubang dengan lumpur sawah yang selalu basah. Oh aku lupa kawan, kau belum aku suruh melihat kening ibu bukan? Lihatlah sekarang, apa warna dan bentuk yang kau dapat kawan? Titik hitamkah? Ya benar, aku pun juga temukan. Itu adalah torehan warna dari sujud yang tak pernah letih dilakukan ibuku sebagai makmum ayahku pada sajadah nan digelar ibu tengah sawah kering atau di tepi pematang sebagai sembah syukur kepada Sang Pencipta dan Sang Pemberi Rezeki.
Sekarang kau sudah tahu kawan, itu lah ibuku. Wanita perkasa nan luar biasa. Apa sekarang kau sedang menerka nerka bagaimana wajah ibuku kawan? Tentu kau bisa menerka bukan, tapi jika kau ingin lukiskan wajah ibuku. Ku mohon. Buatlah sosok wanita dengan sayap dewa, dengan senyum sumringah, kuku bersih, badan tegap dan kulitnya halus mulus. Kenapa kau mengernyitkan keningmu? Karena kau ku suruh menggambar sosok yang jauh berbedakah dari ceritaku? Ya, ku jawab sekali lagi, iya. Ibuku adalah sosok manusia setengah dewa, yang tak ada cela. Sempurna, gambaran ibu bagiku. Dengan tangan yang kasar, kulit hitam legam serta kuku yang menghitam ia membelaiku, memelukku serta menanakkan nasi untuk bekal sekolahku dulu. Dengan telapak kasarnya juga ia menapakan kaki menghibur anak dan menghormati suami. Lalu dengan tubuhnya yang tak lagi tegap ia merendahkan diri sebagai makhluk Sang Illahi dan sebagai pedamping bagi ayahku. Senyum ibu akan ku bawa dan akan kusimpan sebagai suatu materi terindah untuk obat penenang hati di rantau orang hingga toga terpasang di kepalaku dan aku pulang membawa nilai terbaik untuk Sang Terbaik dari Ibu Yang Paling Terbaik.
Dan untuk engkau ibuku yang sedang mencari rezeki terbaik di tanah kelahiranku di sudut desa petani di sana, dengarlah hembusan angin senja ini. Rasakanlah bu, bersama jingga yang kau lihat dari jendela rumah tua kita akan ku lukis senyum bangga dan cinta untuk dirimu yang telah buatku menjadi berharga. Lalu lihatlah bu, sinar temaram dari mega yang keemasan. Itu aku, itu aku bu, ya itu aku bu. Aku yang tengah bertahan dalam ejekan dan sindiran serta tuntutan pengetahuan di rantau orang bu untuk membawakan kau senyum terhangat dengan ijazah kelulusan yang ibarat kau itu adalah bongkahan emas keberhasilan kau bu. Aku akan bertahan dengan keindahan dari bayang dan sosok hangat dari mu ibu. Dengarlah desahan hujan kali ini bu, dia akan melagukan nyanyiannya untukmu, ku harap sinar nanar matamu terganti dengan suka selayaknya diriku menyukainya bu.
READ MORE - Senandung Untuk My Mother

Sahabatku Cintaku

Dulu waktu pertama kali gue masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, Gue mulai mengenal teman-teman gue yang baru, di antara teman-teman sekelas gue, gue paling gak suka sama orang yang namanya Rangga gue juga gak ngerti kenapa segitunya gue gak suka sama dia. Pas waktu gue terpilih sebagai salah satu pengurus osis di sekolah gue, gue kenal sama seseorang yang namanya Randy dari perkenalan itu gue mulai merasa ada yang berbeda dengan sifat gue ke dia.. sejak itu gue mulai suka sama dia.. alangkah senangnya gue pas gue dengar kalau dia suka sama gue, saat itu perasaan gue gak bisa diungkapkan dengan kata-kata saking senengnya gue.
Hari-hariku selalu diisi dengan cerita demi cerita indah yang dia berikan. Selama status gue jadi kekasih Randy, gue gak mengerti dengan sikap yang diberikan Rangga ke gue.. dia sangat perhatian sama gue, dia baik sama gue, dia selalu hibur gue saat gue lagi sedih padahal gue sangat membenci dia, gue juga selalu cuek dengan perhatian-perhatian yang dia berikan ke gue. Dari situ gue mulai mikir kenapa selama ini gue benci sama dia padahal dia selalu baik sama gue.. Gue emang gak tau malu, selama ini gue hanya mikir kalau dia adalah orang yang sangat gue benci gue gak mikirin alasan kenapa gue benci sama dia.. Mulai saat itu sikap yang gue berikan ke dia mulai berbeda dari yang sebelumnya gue lebih ramah, gue lebih perhatian, bahkan gue jadikan dia sebagai sahabat gue yang selalu ada dan selalu mau dengerin curhatan isi hati gue… Selama itu gue mulai mengenal Rangga lebih jauh lagi, dengan perhatian yang Rangga berikan ke gue, gue sampe lupa dengan perubahan sifat gue ke pacar gue.. semuanya menjadi terbalik, gak tau kenapa gue lebih nyaman kalau gue dekat dengan Rangga sahabat gue dibandingkan dengan pacar gue sendiri… Gue makin cuek sama pacar gue, gak ada lagi perhatian yang gue berikan, sejak saat itu hubungan gue sama pacar gue mulai kacau. Akhirnya gue mutusin melajang untuk sementara waktu.
Waktupun telah berlalu selama gue melajang gue malah merasa ada yang hilang dari kehidupan gue yang sebelumnya.. Randy atau pacar gue yang sebelumnya akhirnya minta balik sama gue, gue juga belum tau kenapa, ya gue mau balik sama dia karena gue fikir bahwa dialah yang hilang dari kehidupan gue.. hubungan gue sama dia lebih baik lagi dari yang sebelumnya.. gue sangat bangga mempunyai pacar pertama seperti dia dan gue juga berharap kalau dia juga akan menjadi pacar terakhir dalam hidup gue.
Setelah hampir satu tahun setengah gue pacaran sama dia, temen-temen sekelas gue selalu ngata-ngatain gue kalau gue pacarnya Rangga padahal mereka juga tau kalau gue udah punya pacar dan yang pasti bukan Rangga. Mungkin kata-kata itu sampe pada telinga Randy, gue juga gak tau pasti dia percaya sama gue atau sama temen-temen gue yang pasti gue udah coba jelasin apa adanya.. Tapi mungkin dia lebih percaya sama temen-temen gue karena sejak saat itu sikap dia berbeda, mungkin dia kira kalau gue benar-benar udah selingkuh dengan Rangga, dan pada akhirnya dia mungkin sudah menemukan orang yang lebih segalanya dari gue. Dia mutusin gue.!! Saat itu gue sangat terpukul dengan keputusan dia mutusin gue.. sulit buat gue untuk lupain dia.. Tapi gue selalu dinasehati oleh sahabat yang selalu ada buat gue hingga akhirnya pelan-pelan gue mulai lupa dengan kejadian itu, karena gue yakin keputusan yang diambilnya itu pasti yang terbaik buat dia juga buat gue. Makasih buat sahabat gue yang selalu ada buat gue.. Dengan begitu banyak perhatian yang Rangga berikan ke gue, gue makin merasa nyaman dekat dengan dia. Hingga suatu hari Rangga bilang kalau dia suka sama gue, tapi gue takut kehilangan sesosok sahabat seperti dia, karena gue yakin kebanyakan orang yang udah jadi sepasang kekasih hubunganya gak akan seperti sebelumnya, gue bingung karena di satu sisi gue udah suka sama dia tapi di sisi lain gue takut kehilangan sahabat seperti dia.. Dan pada akhirnya gue memilih untuk menjadi kekasihnya.
Tapi ga tau apa sebabnya setelah gue jadi pacar Rangga Randy datang lagi ke kehidupan gue dia gak terima kalau gue jadi pacar Rangga padahal gue udah gak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Saat itu dia ngancam kami berdua.. gue takut terjadi apa-apa dengan Rangga karena pada saat itu gue lagi benar-benar sayang dan gak mau berpisah dengan Rangga tapi apa boleh buat kalau gue benar-benar sayang sama dia gue harus lakukan apa yang terbaik untuk dia.. Dan gue fikir lebih baik gue pergi dari kehidupannya meski sulit buat gue untuk jauh darinya.. kami berdua memutuskan untuk berpisah untuk sementara waktu hingga masalah ini selesai, Rangga janji kalau suatu saat kita akan bersatu kembali..
Hari-hariku pun diisi dengan kesendirian dan kebosanan, akhirnya masalah masa lalu telah selesai niatku kini tinggal menagih janji yang telah diberikan oleh Rangga, gue coba menghubungi Rangga tapi Rangga sangat sulit untuk dihubungi, dari semua nomor handphone Rangga yang gue punya gak ada satu pun yang bisa dihubugi, saat itu gue bingung harus bagaimana, gue bingung dengan kelanjutan hubungan gue dengan Rangga.. Akhirnya gue coba moveon dari masa lalu gue sampai suatu saat gue bertemu dengan seseorang yang saat itu sempat mengisi hati gue dia bernama Aryen, dia orangnya baik, gak sombong gue suka sama sifat dia. Gue coba untuk berhubungan dengan dia tapi selama itu hubungan gue dipenuhi dengan kebohongan karena gue gak bisa bohongin perasaan gue sendiri kalo gue masih sayang sama Rangga dan Aryen hanya sebatas pelampiasan perasaan gue dari Rangga.. Tapi gue juga gak mau dibilang egois kalau gue Cuma mementingkan perasaan gue sendiri, akhirnya gue coba untuk melupakan Rangga tapi selama hubungan itu berjalan semakin hari rasanya semakin sakit yang aku rasakan, aku gak bisa bohong kalau sampai detik ini pun gue masih belum bisa untuk melupakan rangga. Dan kenapa setiap gue dipertemukan dengan Rangga di posisi gue selalu ada seseorang yang menghalangi kita untuk bersama..
Akhirnya ketakutan gue selama ini terjadi juga, sesosok sahabat sekaligus kakak dalam hidup gue telah hilang entah kemana.. Sikapnya mulai berubah, perhatiannya mulai hilang, kasih sayangnya mulai meredup bahkan gue merasa kalau gue gak kenal dengan seorang kakak yang sekarang.. Ya tuhan kembalikanlah sifat dia yang dulu, aku lebih suka dia yang dulu.. akan ku kenang cerita cinta ini sepanjang hidupku.. entah sampai kapan rasa ini bertahan di hati ini, entah sampai kapan aku mengharapkanmu kembali, tapi yang harus kamu ketahui aku akan tetap bertahan disini..
READ MORE - Sahabatku Cintaku
 

Pengikut

Popular Posts